Lampung Tengah, Hawa dingin menyelimuti arena Konferwil, Sabtu (10/3/18) dini hari, pasca Rapat Pleno Pertanggungjawaban PWNU Lampung periode 2013-2018 dan Pandangan Umum 15 PCNU Kabupaten Kota pada Konferwil ke-10 PWNU Lampung di Aula MTs Darussaadah Lampung Tengah.

Hujan yang turun sejak maghrib ditambah rasa kantuk dan lelah tidak menurunkan antusiasme para pengurus NU Lampung untuk terus melanjutkan sidang penting terakhir yaitu Pemilihan Rais Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Lampung periode 2018-2023. Rapat inilah yang paling menyedot perhatian karena keputusan yang diambil akan menentukan masa depan NU Lampung 5 tahun kedepan.

Tidak seperti Rapat-Rapat dan persidangan sebelumnya yang tidak dijaga ketat oleh Barisan Serba Guna (Banser). Pada sidang pemilihan rais dan ketua yang dilaksanakan di lantai 2 Madrasah Aliyah Darussaadah ini, nampak puluhan banser melakukan screening peserta yang berhak untuk masuk.

Ketua SC Konferwil KH Khairuddin Tahmid sebelumnya telah menginformasikan bahwa yang berhak masuk ke dalam ruangan hanyalah rais syuriyah dan ketua tanfidziyyah dari 15 kabupaten dan kota se-Lampung.

Sebenarnya ada 16 suara yang mempunyai hak pilih yaitu 1 dari PWNU Lampung dan 15 dari PCNU se-Lampung. Namun pada rapat terbatas intern PWNU Lampung sesaat sebelum sidang, terjadi perbedaan pendapat terkait digunakan atau tidaknya hak suara PWNU. Perbedaan pendapat PWNU ini dikarenakan salah satu Pengurus PWNU Lampung yang juga Ketua Tanfidziyah KH Sholeh Bajuri, kembali maju sebagai calon ketua. Ketua tanfidziyah menginginkan suara PWNU tetap digunakan namun Rais Syuriyah tidak berkenan untuk digunakan.

Memang sejak mulai bergulirnya persiapan dan pelaksanaan Konfewil ke-10 ini, beberapa tokoh NU Lampung sudah muncul dan dimunculkan oleh pengurus serta warga NU untuk menjadi rais dan ketua PWNU Lampung. Namun mendekati pelaksanaan “Pesta Demokrasi” NU Lampung ini, satu nama kuat muncul untuk menjadi rais syuriyah yaitu KH Muhsin Abdillah yang sebelumnya juga menduduki jabatan tersebut.

Sementara dua nama mencuat dan menjadi kandidat terkuat ketua tanfidziyah PWNU Lampung yaitu KH. Sholeh Bajuri dan Prof. Dr. H. Muhammad Mukri yang merupakan Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Sabtu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, Rapat pleno pembahasan Tata Tertib dan Pemilihan Rais Syuriyah serta Ketua Tanfidziyyahpun resmi dimulai. Pengurus PBNU KH Marsudi Suhud memimpin sidang yang tertutup untuk umum ini. Setelah melalui pembahasan alot dalam sidang tersebut, akhirnya diputuskan bahwa hak suara PWNU digunakan sehingga suara sah yang berhak memilih adalah 16 suara.

Pemilihan rais pun dilaksanakan terlebih dahulu dengan mendata nama-nama kiai yang muncul dan diusulkan oleh 15 PCNU se Lampung. Tujuh kiai yang diajukan oleh setiap PCNU selanjutnya ditabulasi jumlah perolehan suaranya. Tujuh kiai dengan peroleh suara tertinggi berhak menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA.

AHWA inilah, melalui musyawarah mufakat, yang akan menentukan dan memutuskan siapa yang berhak menjadi Rais Syuriyah PWNU Lampung. Akhirnya, tujuh orang kiai khos Lampung terpilih menjadi anggota AHWA yakni KH. Muhsin Abdillah (15 suara), KH Ahmad Nawawi (7 Suara), KH Syukri Ghazali, (7 suara), KH Maulana Malik Ibrahim (7 suara), KH Mahrus Ali (7 suara), KH Ahmad Mashum Abror (6 suara) dan KH Ridwan Syuaib (5 suara).

Setelah melakukan musyawarah mufakat, 7 Kiai ini bersepakat memilih dan mengangkat kembali KH Muhsin Abdillah sebagai Rais Syuriyah PWNU Lampung periode 2018-2023.

Tibalah pemilihan Ketua Tanfidziyah dimulai. Tahapan pertama adalah pemilihan bakal calon dan memunculkan 2 nama yang sebelumnya sudah diprediksi muncul yaitu KH Sholeh Bajuri dan Prof. H. M. Mukri. Kedua tokoh NU Lampung ini sama-sama berhasil mendapatkan 8 suara dan berhak untuk menjadi calon ketua.

Berdasarkan AD ART NU hasil Muktamar Jombang, sebelum kedua bakal calon ini maju menjadi calon, harus menyatakan kesiapan dan mendapatkan persetujuan dari Rais Syuriyah terpilih.

Sementara dalam musyawarah AHWA yang diketuai oleh KH Muhsin Abdillah dan sekretaris KH Ahmad Mashum Abror sudah memutuskan Rais Syuriyah terpilih akan menggunakan haknya untuk memberikan restu kepada salah satu calon. Namun KH Marsudi Suhud menganjurkan agar kedua calon yang muncul disetujui untuk meneruskan tahap pemilihan.

Sebelum tahapan kedua dimulai Rais Syuriyah terpilih menyampaikan bahwa beliau menghendaki Prof. Mukri menjadi Ketua Tanfidziyah dan akan menempatkan Kiai Sholeh sebagai Wakil Rais Syuriyah. Dengan hal ini diharapkan Kiai Sholeh tidak melanjutkan pencalonannya sehingga tidak terjadi proses selanjutnya. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Kiai Sholeh memilih untuk melanjutkan proses pemilihan calon.

Pemilihan calonpun dimulai. Satu persatu 15 Ketua Tanfidziyah PCNU se-Provinsi Lampung memberikan suara ditambah 1 suara dari PWNU Lampung. Suasana nampak tegang saat dibacakan perolehan suara dua kandidat tersebut. Perolehan suara saling susul menyusul mulai dari 1-0, 1-1, 2-1, 2-2 seterusnya sampai dengan 8-7, lalu 8-8. Kembali terjadi perolehan suara yang sama.

Setelah itu lah Kiai Soleh melakukan interupsi meminta waktu untuk berbicara. Didepan seluruh yang hadir, Kiai Sholeh menyatakan mundur dari pencalonan Ketua Tanfidziyah.

“Saya ikhlas 1.000 persen sahabat saya Pak Prof Dr Moh Mukri M.Ag sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung. Mari kita lupakan perbedaan. Terima kasih kepada PCNU yang mendukung saya,” kata Soleh.

Takbirpun menggema diruangan sidang dan akhirnya Konferwil ke-10 PWNU Lampung pun menyepakati KH Muhsin Abdillah sebagai Rais syuriyah dan Prof. DR. H. Muhammad Mukri sebagai Ketua Tanfidziyyah PWNU Lampung periode 2018-2023.

Selanjutnya Konferwil mengamanatkan kepada Kiai Muhsin dan Prof. Mukri untuk menyusun kepengurusan lengkap PWNU Lampung dengan beberapa anggota Tim Formatur lainnya. Ada 7 anggota yang ada dalam Tim Formatur yaitu 1 orang unsur PBNU, 1 orang Rais Syuriyah terpilih, 1 orang ketua tanfidziyah terpilih dan 4 orang utusan PCNU Kabupaten yaitu dari Pringsewu, Pesawaran, Tulang Bawang dan Tulang Bawang Barat.

Semoga keberkahan selalui menaungi PWNU Lampung kedepan dengan komposisi kepengurusan yang memang layak menduduki setiap posisi yang ada. “The Right Man in the Right Place” (Orang yang Tepat di Posisi yang Tepat). Semoga.

(Tim LTN NU Pringsewu/JunaSr)
*)diolah dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here