Pringsewu. Melanjutkan pembahasan bab wudlu di dalam kitab Bidayatul Hidayah, KH.Anwar Zuhdi menjelaskan pentingnya membaca do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam tiap anggota wudlu sebagai bentuk dzikir dan ketaatan kepada Allah swt.

Seperti saat berkumur hendaknya seseorang yang berwudlu dan tidak sedang berpuasa memaksimalkan air tersebut masuk hingga menyentuh kerongkonganya sambil berdoa, Allohumma a’inni ala tilawati kitabika wa katsroti dzikri laka wa tsabbitni bil qouli tsabiti fil hayatit dunya wal akhirot.

Doa-doa yang menyertai anggota wudlu adalah kesunahan yang seyogyanya dilakukan dengan sungguh-sungguh karena akan menambah kualitas ibadah seseorang dihadapan Allah swt.
“Sebab, bisa terjadi orang yang suka menyepelekan amalan sunah, akan meremehkan amalan wajib. Sering memudahkan yang makruh, akan terjerumus pada yang haram. Dengan membiasakan yang sunnah maka orang akan mudah melaksanakan perkara yang wajib”.Jelasnya pada Jihad (Ngaji Ahad) yang rutin dilaksanakan mulai pukul 06.00 pagi di aula gedung PCNU Pringsewu.(04/08/2019)

Kesunahan doa dalam hal ini lanjut Mustasyar PCNU Pringsewu merupakan wujud dzikir seseorang kepada Allah dalam segala keadaan.

Dzikir merupakan ibadah yang paling disukai oleh Allah seperti halnya sholat, baik yang wajib maupun sunah. Karena inti dari ibadah hakikatnya adalah mengingat Allah swt.

Ia mencontohkan membaca Al quran merupakan bentuk dzikir walaupun satu surah saja, seperti rutin membaca surat Yasin.
“Hikmah dari membaca surah Yasin yang merupakan jantungnya al Qur’an, maka ketika sampai ayat ‘salamun qoulan min robbir rohim, seseorang yang membaca ayat ini 100 kali insya Allah segala hajat yang diminta maka Allah akan mengabulkan.” Lanjutnya.

Maka ia menghimbau agar terus mengistikomahkan amalan sunah walaupun sedikit. Niatkan amalan sunnah untuk mengharap ridho Allah bukan untuk mencari pahala.
Dengan motivasi ridho Allahlah maka seorang hamba akan selalu dipenuhi rahmatNya.
“Betapa banyak amalan sunnah yang kita tau, namun begitu berat kita menunaikanya.Padahal boleh jadi di dalam amalan tersebut terkandung rahmat Allah yang besar.” Tambahnya

Diantara rahmat Allah tersebut ia mencontohkan kisah seorang beragama majusi (penyembah api) yang konon di akhir hayatnya ternyata mendapat surga hanya karena amalan sepele.
“dikisahkan, si majusi di tempatkan di surganya Allah hanya karena menghormati orang yang sedang puasa di bulan ramadan.” Pungkasnya.(junaSr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here