Pada zaman itu, walaupun Hadrotusy Syaikh Hasyim As’ari belum mendirikan jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, beliau sudah sangat masyhur akan kealiman dan kemulyaannya. Khususnya dalam fan ilmu hadits. Kemasyhuran Yai Hasyim juga terdengar oleh pemuda asal Ploso Mojo Kediri, Djazuli namanya. Sehingga taqdir mempertemukan dua insan mulia ini.
______________________________

Tepatnya tahun 1922, Yai Djazuli pulang ke Indonesia dengan terpaksa. Hal itu dikarenakan di timur tengah terjadi peperangan, yakni kudeta Abdul Aziz As-Su’ud yang didukung sekte Wahabi terhadap pemerintahan sayyid Husein. Beliau merasa bahwa Haromain adalah lumbung ilmu dan barokah, merupakan tanah suci nabi Al-Mustafa, dan tempat segala harapan dicurahkan. Sungguh kecewanya Yai Djazuli. Di saat menggebu-nya keinginan mencari ilmu di tanah Haromain, beliau harus pasrah dipaksa pulang. Karena masih haus akan ilmu, Yai Djazuli muda akhirnya memutuskan melanjutkan ta’allumul ilmi setiba di tanah air Indonesia. Oleh Yai Djazuli, Tebuireng Jombang dipilih sebagai tempat berlabuh. Terkenal dengan pesantren ampuh. Terkenal dengan pesantren yang “getol” ngajinya. Terkenal denga fan ilmu hadist yang bagus. Terlebih pengasuhnya adalah Hadrotusy Syaikh Hasim As’ari, murid dari Syaikhona Kholil bangkalan, yang kelak menjadi muassis jam’iyyah Nahdlatul Ulama’. (Semoga kita mendapat barokah dari beliau-beliau).

Tatkala Yai Djazuli sampai di Tebu Ireng, beliau mutuskan langsung sowan ke insan mulia Yai Hasyim Asy’ari. Perasaan senang, ta’dzim, dan degdegan campur menjadi satu. Menunggu dawuh yang akan keluar dari insan mulia, Yai Hasyim Asy’ari. Tapi sungguh tak disangka, Yai Hasyim dawuh, “Kamu di sini tidak usah mengaji. Kamu mengajar saja.” Kaget dan tak percaya terhadap ucapan Hadrotusy Syeikh. Niat awal ingin mengaji, memenuhi hasrat ta’allumul ilmi, tapi Hadrotusy Seikh punya pilihan lain. Sebenarnya Yai Hasyim sudah tahu siapa Yai Djazuli. Pemuda yang sudah memiliki track record panjang. Malang melintang dari pesantren Malang, Sidoarjo, Nganjuk, bahkan sudah mencicipi ilmu tanah Haromain.

Bahkan Yai Hasyim mengetahui bahwa Yai Djazuli adalah “BLAWONG”-nya pondok Mojosari Nganjuk. Mungkin hal itulah yang menjadi pertimbangan bahwa Yai Djazuli sudahsiap untuk mengajar di Tebuireng. Hingga akhirnya, kehidupan Yai Djazuli di Tebuireng diisi dengan “mbalah” kitab tafsir Jalalain dan mengajar di madrasah. Bahkan Yai Djazuli kerap mewakili pondok Tebuireng dalam bahtsul masail yang diselenggarakandi Kenes Semarang, Surabaya, dan sebagainya. Yai Djazuli dan Yai Hasyim mempunyai hubungan yang sangat dekat. Yai Hasyim merupakan guru berwibawa dan mutho’, dan Yai Djazuli merupakan santri kesayangan yang amat ta’dzim dan mentaati semua perintah Yai Hasyim.

Hubungan yang erat dari kedua beliau masih terjaga walaupun Yai Djazuli sudah berhijrah nasyrul ilmi di ploso. Bahkan Yai Djazuli mendirikan Madrsah Riyadlotul uqul yang kurikulumnya sama persis dengan pondok tebuireng era Mbah Hasyim. Dan yang spesial lagi, madrasah Riyadlotul Uqul tersebut diresmikan langsung oleh Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Maka banyak orang bilang, “Jika ingin tahu sistem Pondok Tebuireng era Mbah Hasyim, maka lihatlah pondok Ploso.”

اللهم اجعل معهد الفلاح معهدا نافعا مباركا مستمرا إلى يوم القيامة…

Sumber: fb Tatang Budiman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here