Menurut KH.Ma’ruf Khozin para Santri akan merasakan keberkahan para Ulama dan Guru setelah ia tidak lagi di pesantren atau setelah mulai berkiprah mendapatkan izin para kiai untuk terjun di masyarakat.
“Bekal berupa Berkah Guru itulah yang teramat saya rasakan.”Kata Alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur di channel youtube Pena Santri (11/05)

Menurutnya, berkah atau barokah seorang guru terhadap santrinya menukil salah satu hadits riwayat Bukhori, bahwa dari sekian pohon, ada satu pohon yang keberkahanya sama dengan keberkahan seorang muslim.
“Apa pohon tersebut, Nabi menyebut hiya an Nahlah, yaitu pohon Kurma.”Lanjutnya.

Yang dimaksud dari hadits ini menurut Al Hafidz Imam Ibnu Hajar pakar hadits bermadzhab Syafii menjelaskan pohon kurma semua mengandung berkah. Buahnya, pohonya bisa digunakan, daunya bisa dimanfaatkan.
“Demikian halnya ketika pohon itu ditebang tetap bermanfaat seperti keberkahan seorang Muslim.”Terangnya

Seorang muslim lanjut Direktur Aswaja NU Center Jawa Timur ,tutur katanya menjadi berkah, tanganya menjadi berkah bagi orang lain. Sekujur tubuhnya dan apa yang melekat dalam dirinya menjadi berkah bagi orang lain.
“Wanaf’uhu mistamirun lahu walighoirihi hatta ba’da mautih, bahkan kerberkahan itu tetap ada meskipun ia telah berada di liang lahat.

Karenanya ia mengingatkan kepada para santri, bawa para ulama dan kiai yang selama hidupnya telah memberikan keberkahanya, maka meskipun kini telah wafat, keberkahan itu tidak akan putus.

Lalu apa istimewanya Guru dan Ulama sehingga dapat memberikan keberkahan?

Di dalam Al Qur’an Surat An Nisa’ ayat 69, ‘Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.’ Kiai asal Madura ini menjelaskan kedudukan para Guru dan Ulama digolongkan kepada orang-orang yang Shiddiqin dalam ayat tersebut.
“Bedanya shiddiqin dan syuhada adalah, kalau Syuhada orang yang mati syahid karena ia menyerahkan nafas dan hidupnya saat perang lalu meninggal(dalam waktu yang sebentar). Sementara Shiddiqin menyerahkan seluruh umurnya berjihad, berjuang di jalan Allah selama hidupnya.” Jelasnya berdasarkan kitab Nawadzirul Ushul.

Maka, dari keterangan tersebut bisa disimpulkan bahwa Shiddiqin adalah golongan para Guru, kiai dan ulama. Dimana dari kecil, remaja hidupnya berpegang pada kitab, mengajarkan ilmu dan membangun pesantren untuk santri.
“Perjuanganya adalah terus menerus untuk santri, untuk kebaikan dan kita semua. Jangan sampai kita terputus dengan mereka, karena di akhirat kelak kita akan di kumpulkan oleh Allah bersama mereka.” Pungkasnya.(junaSr)

Pewarta : Fathurrahman
Editor : Malik Fajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here