Gus Baha Sang kyai Muda Yang Sepesial?

0
113

“GUS BAHA SANG KYAI”

Saya pertama kali mengenal nama Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim Al Hafidz) sekitar 3-4 bulan lalu dari media online ketika mendengarkan ceramah dari Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Abdul Shomad. Beliau berdua dalam beberapa kali kajiannya sempat menyebutkan nama Gus Baha sebagai ahli Fiqih dan Ahli Tafsir dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama) yang tidak diragukan lagi ‘kefaqihannya’. Karena penasaran, saya mencoba untuk mencari-cari dan mendengarkan kajian-kajian ‘beliau’ di Media Sosial (Facebook, YouTube, dll).

Sekilas melihat penampilan Gus Baha tidak ada yang istimewa, malah gaya beliau pake peci hitam rada miring yang menyisakan sedikit rambut hitamnya di depan, dengan kain sarung dan baju putih lengan panjangnya, mengingatkan saya kepada tokoh cerita Kabayan atau serial televisi boneka si Unyil. Tampilan beliau biasa-biasa saja, terlihat sebagaimana kebanyakan kaum santri sarungan dari kalangan Nahdliyyin. Cuma, begitu beliau tampil berbicara di panggung, barulah nampak ada sesuatu yang berbeda. Audiens yang hadir seolah-olah terpesona dengan gaya bahasa kampungan beliau. Masalah-masalah ‘rumit’ dalam ilmu Fiqih dan Tafsir Al-Qur’an yang biasanya dianggap ‘berat’ oleh kebanyakan Kyai atau Santri level tinggi, dari lisan Gus Baha apa yang dirasa berat itu jadi terdengar ‘ringan’ dan yang rumit jadi mudah dimengerti.

Majelis Gus Baha banyak dihadiri oleh orang-orang dari berbagai kalangan, dari pejabat negara, tokoh masyarakat, para Kyai, para santri, pelajar, mahasiswa, dosen, sampai dengan orang awam biasa. Dengan bahasa Indonesianya yang khas campur aduk ‘Jawa Medok’ yang diselingi guyonan-guyonan segar, apalagi kalo Gus Baha sudah mulai nyentil punakawan nya, si Rukhin & Mustopa, ngaji serius yang bikin kepala puyeng jadi terasa hidup dan menyenangkan, mutiara hikmah yang seharusnya sulit dicerna jadi lebih gampang dipahami. Dan kekhasan tersebut dipertajam lagi dengan tutur bicara yang mengalir deras bak mata air pegunungan yang terjun dari ketinggian, mengobati dahaga bagi para pencari hikmah yang kehausan. Tidak salahlah apabila seorang pakar ilmu tafsir sekaliber Prof.DR. Quraisy Syihab sampai berkata :”Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al Qur’an hingga detail-detail Fiqih yang tersirat dalam ayat-ayat Al Qur’an seperti pak Baha”.

Sebagai muslim awam yang belajar Islam dengan metodologi semaunya, sosok Kyai di mata saya tidak beda dengan guru atau ustadz yang biasa ngajar ngaji di mushola-mushola atau ceramah di masjid-masjid, yang setelah saya dengar ceramahnya yasudah saya tinggal pulang. Kadang saya bisa mengingat dengan apa yang telah disampaikan, tapi yang lebih sering ya saya lupakan. Hampir tidak ada hubungan emosional berarti, seperti yang terjadi di pondok-pondok pesantren tradisional, dimana hubungan Santri dengan Kyainya amat erat.

Apalagi dari kecil saya dibesarkan dilingkungan perkotaan, di Surabaya saya bersekolah di SD Negeri lanjut ke SMP negeri, walaupun saat SMA saya bersekolah di SMA Islam, ditambah sore harinya nyambi belajar ngaji di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, cuma karena sekolah SMAnya lebih mirip dengan sekolah swasta konvensional, yang dalam metode pembelajaran Islam nya tidak seketat pondok pesantren, jadinya pengetahuan agama yang saya terima cenderung ala kadarnya, kalau gak mau dibilang semi sekuler, yang kalo baca Qur’an masih tergagap-gagap.

Setelah kerja di Jakarta, saya sempat beberapa kali ikut ngumpul pengajian dengan teman-teman Tarbiyah, saya sempat juga ikut-ikutan nyantri kalong di ponpes Hidayatullah, tapi ya namanya ngalong, kadang ‘dong’ (rajin ngaji) yang paling sering ya ‘blong’ (malas datang). Kalo pikiran lagi benar ya menggebu-gebu, tapi kalo pikiran lagi miring ya saya lebih suka nyari pacar baru. Dan terakhir saya larut dalam gerakan fenomenal 212 Monas. Cuma karena masih kurang serius dalam mendalami Islam, sepertinya pemahaman saya terhadap Islam tetap pada tahap apa adanya.

Dengan latar belakang Islam seperti itu, rada bingung juga saya kenapa sosok Gus Baha ini begitu membekas di hati saya. Padahal saya termasuk fans berat Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Abdul Shomad, yang kedalaman ilmu agamanya kemungkinan tidak berselisih banyak dengan Gus Baha. Apakah karena saya dan Gus Baha itu sama-sama orang Jawa sehingga saya sangat familiar dengan gaya bahasa beliau, ataukah karena usia saya yang tidak terpaut jauh dengan beliau (lebih tua saya 2 tahun), sehingga dalam perasaan saya seperti ada ikatan batin persahabatan yang erat, Wallahu ‘alam ..

Banyak sebab akibat yang menjadikan saya tiap kali mendengarkan ceramah Gus Baha seperti ada semacam rasa yang susah diungkapkan, seakan-akan saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari-cari. Mungkin karena kesederhanaan beliau, serta keistiqomahannya dalam mengamalkan apa yang disampaikan, yang menyebabkan setiap kajian-kajiannya seolah memiliki Ruh Ilahiah. Sehingga apapun yang disampaikan oleh beliau dapat langsung menghujam ke lubuk hati yang paling dalam, mengeruk dan membersihkan jiwa saya yang penuh dengan noda dosa ini. Dan yang terjadi, semakin mengenal Gus Baha membuat saya makin jatuh cinta terhadap agama Alloh SWT. Penjelasan beliau tentang ilmu Hakikat dan ilmu Makrifat dalam bahasa awam, membuat saya seolah menerima ilmu LADUNI (ilmu yang diberikan langsung dari Alloh SWT), makin menjadikan MELEK MATA HATI dan makin tercerahkan batin saya, sehingga saya merasa makin mengenal JATI DIRI saya sebagai HAMBA ALLOH SWT ..

Pada akhirnya hanya kepada Alloh SWT semata tempat kita berserah diri, dan Sholawat salam saya persembahkan kepada penutup para Nabi & Rosul, Sayidina Muhammad Rasulullah SAW. Serta Tawasul Fatihah saya tujukan untuk para guru tercinta :
– KH. Ahmad Bahauddin Nursalim Al Hafidz
.. (Al Fatihah)
– KH. Nursalim Al Hafidz, Narukan, Kragan, Rembang .. (Al Fatihah)
– KH. Arwani Al Hafidz Kudus .. (Al Fatihah)
– KH. Abdullah Salam Al Hafidz, Kajen, Pati .. (Al Fatihah)
– Syaikhina KH. Maimoen Zubair, PS Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang .. (Al Fatihah)
– Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban / Mbah Sambu, Lasem .. (Al Fatihah)

(-Agos Loe-)

Di sadur dari
“Pejuang Nahdlatul ulama”
31 Mei 2020
Melalui izin Terkait

Editor : Malik Fajar
@Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here