Maulid Nabi dan Kisah kyai As’ad

nupringsewuonline,K.H. R. As’ad Syamsul Arifin adalah pengasuh Ke 2 pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Ia adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. lahir pada tahun 1897 di Mekah – meninggal 4 Agustus 1990 di Situbondo pada umur 93 tahun.

Syahdan, dalam sebuah perjalanan ke acara undangan maulid nabi menyertai gurunya, Kiai As’ad Syamsul Arifin muda terheran-heran. penyebabnya, sang guru, di hampir separuh perjalanan seperti tampak begitu bahagia bahkan sesekali tertawa, karena penasaran, akhirnya Kiai As’ad memberanikan diri bertanya:
Kiai As’ad: “Kenapa Kiai dari tadi begitu tampak bahagia?”
Guru: “Nak, coba lihat pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang itu, mereka tampak bahagia karena menyambut maulid nabi.”
Cerita ini saya dengar langsung dari Kiai Afifuddin Muhajir, beliau dari Kiai As’ad Syamsul Arifin. Guru yang dimaksud dalam percakapan ini adalah Kiai Jazuli Tattango, Sumenep, seorang sufi cum mursyid thariqah naqsyabandiyah-qadiriyah di masanya

Kyai Mahrus Aly, Kyai As’ad, Kyai Ali Maksum

Dalam banyak literatur keislaman, seorang sufi dalam memandang segala hal menggunakan dua hal. Pertama, dengan pandangan mata kepala (ainul bashor). Kedua, pandangan mata hati (ainul bashiroh),Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin berkata:

‏الذين يعجزون عن قراءة الأسطر الإلهية المكتوبة على صفحات الموجودات بخط إلهى لا حرف فيه ولا صوت الذى لا يدرك بعين البصر بل بعين البصيرة.

Artinya :
“Orang-orang yang tidak mampu membaca garis-garis ketuhanan yang tertulis dengan “tinta” Allah Swt. yang terdapat dalam lembaran-lembaran tanpa huruf dan tanpa suara yang hanya bisa dijangkau dengan mata hati bukan dengan mata kepala.”Memang sudah sewajarnya setiap orang merasa bahagia dengan hadirnya sosok yang kelak kita harapkan syafaatnya itu.
Sayyid Muhammad ibn Alawi al-Maliki berkata:

Tidak layak seseorang yang berakal bertanya “Mengapa kalian memperingati maulid?”. Karena seolah-olah ia bertanya “Mengapa kalian bergembira dengan adanya kelahiran Nabi?”.
Selamat bermaulid, mari sambut dengan bahagia dan rasa gembira. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.

Oleh : Husain_fahasbu

Editor : Malik_fajar

About Admin

Istiqomah dalam Berkhidmah

Check Also

Forsilaspa Training Center (FTC) Gelar Pelatihan Qoriah

Pringsewu. Bertempat di Pondok Pesantren Nurul Ummah pekon Gemahripah Pagelaran Pringsewu Lampung tiap hari Ahad …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.