Tips mengawali hari ala Kitab Kifayatul Atqiya

Setiap orang memiliki kebiasaan ketika bangun tidur di pagi hari. Setelah melakukan ibadah wajib sholat subuh, ada yang memulai hari dengan menyeruput kopi susu, ada yang langsung berjalan ke arah dapur menyiapkan sarapan. Bahkan ada pula yang melanjutkan mimpi yang dirasa belum usai.
Apa yang anda lakukan untuk mengawali hari-hari anda? Apakah cukup dengan membuka gawai, update status, lalu scroll media sosial? Jika masih seperti itu, anda perlu membaca tulisan ini sampai selesai.  

Dalam kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya karangan Syekh Abu Bakr as-Sayyid al-Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi , tepatnya pada bab “Menjaga Waktu”, tetulis:

إذا فرغت من الصّلاة الصّبح مراعيا للآداب المتقدّمة فاشتغل بالورد من الأذكار والتّسبيح والأدعية والآيات التي وردت في فضلها إلى طلوع الشّمس.

Artinya: “Setelah anda selesai mengerjakan sholat shubuh berjamaah, maka sibukkanlah diri anda dengan wirid, dapat berupa dzikir, tasbih, doa-doa, dan ayat-ayat yang mana anda akan mendapatkan keutamaan dari semua itu sampai terbitnya matahari.”

Menurut teks diatas, dapat disimpulkan bahwa awalilah hari-hari anda dengan mengerjakan sholat subuh berjamaah. Kemudian lanjutkanlah dengan membaca aurod, do’a, dan tasbih sampai terbitnya matahari. Keutamaan tersebut juga termaktub pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi :

من صلّى الفجر في جماعة ثمّ قعد يذكر الله حتّى تطلع الشمس ثمّ صلّى ركعتين كانت له كأجر حجّة وعمرة تامّة تامّة تامّة.

Artinya: “Barangsiapa melaksanakan solat subuh secara berjamaah kemudian duduk sambil berdzikir sampai terbitnya matahari, setelah itu melaksanakan solat 2 rokaat (Dhuha), maka orang tersebut akan mendapatkan pahala seperti halnya pahala orang yang haji dan umroh yang dengan sempurna”

Begitu besar bukan pahala orang yang melaksanakan semua hal tersebut? Begitu mudah bukan mendapatkan pahalanya orang yang berhaji dan umroh dengan sempurna? Kita tidak perlu mengeluarkan banyak dana untuk mendapatkan pahala orang yang berhaji dan umroh. Kalau mendapat pahala haji dengan cara harus ke Makkah, alangkah banyak yang harus kita persiapkan. Apalagi ditambah dengan masa antre yang lamanya sampai puluhan tahun. Lengkap sudah paket kesabaran yang harus dijalani hamba-Nya untuk pergi ke Baitulloh.

Jangankan membaca dzikir atupun aurod yang bersifat sunnah, kadang bangun untuk sholat subuh yang wajib saja kita lalai. Apalagi mengerjakan sholat subuh dengan berjamaah. Berat sekali rasanya. Disatu sisi, memang benar kita akan mendapatkan pahala yang berlimpah seperti pahalanya orang yang berhaji dan umroh jika kita melaksanakan serangkaian step diatas. Tapi tidak dapat dipungkiri, tidur setelah subuh merupakan hal yang sangat nikmat. Apalagi jika sholat di dalam kamar. Bantal dan guling yang ada dikasur seperti kenek bus yang bersahutan berebut penumpang di terminal. Pada akhirnya, kita hanya punya 2 pilihan, melawan nafsu atau mengikutinya.

Alloh melalui Nabi Muhammad SAW pun telah memberikan kisi-kisi besarnya pahala yang didapatkan oleh seorang hamba yang melaksanakan hal diatas. Seperti halnya soal ujian, itulah kisi-kisinya. Sekaranglah waktu seorang hamba untuk memilih. Apakah akan belajar sesuai dengan kisi-kisi yang ada. Ataukah menyia-nyiakan kisi-kisi tesebut?

Penulis : M. Fikril Hakim
Editor : Nuri R. C

About Admin

Istiqomah dalam Berkhidmah

Check Also

Kiai Said : Warga NU dan Santri Wajib Berdakwah di Medsos

Jakarta, Dakwah NU Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj mendorong …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *